Memahami Arti Pulang August 30, 2009
Posted by Didi Keitha in Breaking News, Culturals, Didi's Site, Spirituals.Tags: memahami arti pulang
add a comment
Kata pulang menjadi perwakilan dari seribu satu rasa yang tertuju pada kerinduan-kerinduan dengan sesuatu yang sudah menjadi ikatan kuat dalam diri seseorang. Sesuatu yang tidak mungkin untuk dipisahkan, karena dari situlah ia berasal dan di situ pula ia menemukan jati dirinya.
Mulai Ebiet G. Ade, bahkan Michael Buble membuat buah karya yang bertemakan pulang. Ebiet mengisahkan keinginan-nya pulang untuk menuju keluarganya atau istri yang dicintainya.
Coba kita perhatikan syair lagunya dibawah ini:
Kemanapun aku pergi
Bayang bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
S’lalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri
Ku tanya pada siapa
Tak ada yang menjawab
Sebab semua peristiwa
Hanya di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian
Aku mencari jawaban di laut
Ku sadari langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan
Menghentikan petualangan
Kemanapun aku pergi
Selalu ku bawa bawa
Perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu ku buka
Dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa
Aku ingin pulang
Aku harus pulang
Aku ingin pulang
Aku harus pulang
Aku harus pulang
Sungguh syair lagu yang dalam yang mengisahkan keinginan seseorang untuk pulang. Mari kita bandingkan dengan syair lagu Michael Buble di bawah ini yang berjudul Home:
Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home
Mmmmmmmm
Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna come home
Oh, I miss you, you know
And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well, I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that
Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky I know
But I wanna go home
Mm, I’ve got to go home
Let me go home…
I’m just too far
from where you are
I wanna come home
And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
That this was not your dream
But you always believed in me
Another winter day
Has come and gone away
In even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home
And I’m surrounded by
A million people I
Still feel alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know
Let me go home…
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home
Let me go home…
It’ll all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home
Syair lagu diatas mengisahkan hasrat yang serupa dengan lirik lagu pertama yang saya kutipkan dari Ebiet G. Ade. Keduanya sama-sama meluahkan kerinduannya untuk pulang kepada keluarga terdekat atau kekasih atau istri yang sangat dirindukannya.
Menjelang Idul Fitri yang akan kita jelang beberapa hari kedepan, akan sangat banyak Umat Muslim di Indonesia yang akan pulang kepada keluarganya, akan pulang ke habitat-nya yang semula. Baik yang sedang bekerja di ibukota, maupun yang sedang bekerja di luar negeri akan berlomba-lomba untuk pulang, menemui belahan jiwanya yang tertinggal di kampung halaman.
Dalam skala hidup yang lebih luas, pulang adalah kembalinya manusia pada asalnya yang tidak mungkin dielakkan. Apa dan bagaimana pun keadaannya, suka atau tidak pun rasa ingin pulangnya, jauh atau dekat pun perginya, dan ada atau tidaknya kerinduan terhadap arah pulang yang satu ini; setiap kita pasti akan ’pulang’.
Walaupun, tidak sedikit orang yang merasa lebih nyaman berada di dunia ini daripada berhasrat menuju ’pulang’. Lebih asyik dengan status-nya. Lebih asyik dengan pekerjaannya. Lebih asyik dengan segala fatamorgana yang sedang menaunginya.
Namun, kita tetap harus pulang. Persis seperti yang diungkapkan oleh Ebiet G. Ade maupun Michael Buble diatas. ”Kita bukan tidak ingin ’pulang’. Tapi, kita mungkin belum memahami arti ’pulang’.

