jump to navigation

From The Bottom Of My Heart (Didi) July 11, 2009

Posted by Didi Keitha in Love, Mimi's Site.
trackback

Seketika lelaki itu terpaku di taman luas berhamparan bunga,
Di depan sebuah mawar merah yang begitu menawan
Menebar wangi , berjuta asa pesona dan kerinduan
Hanya pada mawar itu ia bermimpi,…tersenyum dan berharap,
Kemudian mengatakan padanya cinta itu telah hadir
Memenuhi setiap rongga harap dan penantian

Tak perdulikan ragam bunga yang lain
Tak perdulikan makna duri yang bisa saja menusuk

Ia hanya terus katakan rindu…
Selalu ucapkan cinta…
Biar hari akan bicara pada kita, katanya…
Biar waktu memberi akhir pada cerita, ucapnya
Oh…ternyata cinta itu telah benar-benar hadir

Ketika cinta telah hadir…

… tak seorangpun di dunia ini sanggup menolaknya, termasuk seorang satria tegar yang terbiasa hidup sendiri. Sebuah keagungan telah datang….kata orang-orang yang sedang merasakannya. Langit dan bintang-bintang seakan begitu dekat bagi orang-orang yang sedang merangkulnya.

Pernahkan mencium cinta ? Membelainya hingga terbawa dalam mimpi…memeluknya hingga tak seorangpun dapat merengkuhnya dari kita. Bagaimana jika yang menciptakan cinta yang mengambilnya dari kita…akankah kita akan berkata “takdir memang kejam” , dunia tak adil, atau bahkan Sang Pencipta tak berpihak pada kita ?

Menjalaninya seperti berjalan di jalanan yang penuh kerikil dan batu-batu tajam, sebab hampir semua cinta di dunia ini selalu berdampingan dengan pamrih, mencintai…untuk dicintai, memberi…untuk diberi, memuja…untuk dipuja. Semua manusiawi jika porsi yang ada tidak berlebihan seperti halnya minum dan makan.

Asa dan impian harus terus ada, sebab bagaimana mungkin seseorang dapat merengkuh bulan dan bintang tanpa mimpi? Bagaimana bayang indah di pelupuk mata bisa tersentuh tanpa hasrat dan keinginan?

Ketika ia bersemi…

Kita memeliharanya…membelai setiap hari, memberinya kesejukan, kenyamanan hingga iapun enggan berpijak pada tangkai bunga yang lain..memberinya senyuman di pagi hari, hingga membiarkan peluhnya membasahi wajah kita kala mentari bersinar terlalu terik.

Semua demi cinta…bahkan kadang kejujuran hanya menjadi sebuah mitos belaka, tak ada yang hebat selain memberinya segala sesuatu yang terbaik dari diri kita ?!

Biarkan semua mengalir dalam nadi…hingga suatu saat ia tinggal di suatu tempat khusus di hati, terukir indah bagai lukisan yang selalu punya kelebihan dan kelemahan…abadi…atau hanya menjadi kenangan masa lalu.

Tapi…

Suatu saat iapun bisa pergi tanpa tanda atau isyarat, tanpa mengucapkan kata berpisah. Jantung akan terasa begitu sesak…perih tak terobati, air matapun mengalir mengiringi pagi hingga malam, tak lihat lagi ketulusan dan kesejatian sebuah cinta…Angan dan harapan yang tersusun serpihan demi serpihan…lenyap dalam sekejap…

Seorang teman berkata, bagaimana mungkin kita bisa berucap dan merasakan cinta jika kita sendiri belum dapat memberikan cinta pada diri sendiri ? Rasa kadang tak adil, begitu manis di awal…namun perlahan menjadi sebuah kepahitan pada akhirnya?!

Wajar..itulah romantika, menikmatinya kala manis dan pahit menjadi sebuah sensasi yang tiada terbeli di manapun…nikmatilah.., maka keikhlasan akan segera mengisi rongga-rongga hati yang sepi dan kecewa…suatu saat nanti lengan-lengan waktu yang gagah dan perkasa akan datang…menyeka semua luka dan perih yang ada.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: