jump to navigation

Guru July 15, 2009

Posted by Didi Keitha in Life, Mimi's Site.
trackback

Berbahagialah bila anda seorang guru.
Diri anda akan tetap diingat oleh anak didik anda…sampai kapan pun.
Guru banyak yang dibenci dan dicaci waktu mengajar, namun akan dikenang dan tetap dikenang oleh anak didiknya sampai ke liang lahat.

Sayangnya masih ada guru yang tidak dapat digugu dan ditiru.
Ia, guru jelas mempunyai semua persyaratan dan ilmu yang diperlukan. Namun, kadang masih ada yang lupa dan tidak dapat mengajarkan pelajaran tentang pemahaman nilai, terutama nilai dasar kehidupan, yaitu keadilan.

Para siswa adalah manusia yang mengalami proses pembentukan. Siswa bukan bahan baku untuk menjadi barang jadi berupa boneka atau mainan anak-anak.

Guru umumnya sangat mudah mengajarkan nilai keadilan, tetapi dapatkan para guru menerapkan nilai keadilan itu sendiri? Apa artinya kita minta agar siswa rajin membaca buku, kalau kita sendiri setelah selesai sekolah tidak pernah membaca buku lagi? Apa artinya kita minta agar para siswa belajar giat kalau kita masih mau mengatrol atau merubah nilai mereka? Dimana nilai keadilan bila semua siswa harus diluluskan agar kita tidak repot? Apakah langkah in bukan penindasan terhadap nilai keadilan, sekedar untuk mengejar kesenangan palsu?

Oleh karena itu orang bijak mengatakan :

“Taatilah dan turutilah semua yang guru perintahkan, tetapi jangan meniru apa yang mereka lakukan, sebab mereka kadang tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan”.

Kesulitan hidup manusia tidak pernah ada ujungnya, hanya manusia yang tabah dan ulet yang akan dapat mengatasinya, demikian pula dalam dunia pendidikan. Sekolah favorit dan unggul tidak berbeda dengan yang lainnya.

Perbedaannya hanya satu, dalam proses pengajaran sejak awal sampai lulus berani mengadakan proses seleksi ketat, karena mereka menyadari bahwa kaum muda akan menghadapi tantangan.

Seharusnya para siswa dan anak muda dihadapkan pada realitas kehidupan, kalau pintar, ya pintar kalau tidak, ya, kita harus berani mengatakan apa adanya.

Kalau guru tidak berani mengajarkan nilai keadilan, tidak bedanya kita ini menipu diri kita sendiri, walau bodoh dengan senyuman kita beritahu kalau mereka tidak bodoh.

Kita harus berani terus-terang kepada siswa, mereka harus dibantu menjadi dewasa meskipun tidak pintar, mereka harus diajari nilai-nilai keadilan. Kita harus berani mengatakan bahwa sayur pare itu pahit rasanya namun banyak disuka orang.
Para siswa harus diajari apa hidup dan kehidupan itu.
Dalam hidup di dunia ini, manusia mempunyai kebebasan.
Kalau ingin menjadi petinju yang handal, harus berlatih keras, dan bukan enak-enak tiduran minta pijat bunda tercinta.

Sekolah adalah sasana tinju, guru adalah pelatihnya.
Mampukah para guru menerapkan sistem pengajaran yang menjunjung nilai tinggi keadilan???

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: