jump to navigation

Para Ibu yang Melahirkan Generasi Hebat August 30, 2009

Posted by Didi Keitha in Breaking News, Didi's Site, Spirituals.
Tags:
trackback

ibu

Seorang ibu adalah pintu pembuka bagi pendidikan seorang anak. Pertama kali seorang anak menerima pendidikan setelah lahir kedunia, bisa dipastikan seorang ibu-lah yang mengambil peran yang dominan. Pepatah Islam bahkan menyebutkan bahwa seorang ibu ibarat sebuah madrasah, sekolah buat buah hatinya.

Berikut ini kisah heroik beberapa ibu yang telah melahirkan, mendidik, dan membina anak-nya sehingga menjadi generasi yang hebat, generasi yang selalu dikenang oleh jutaan umat manusia. Selamat membaca!

Ibu Yang Mendidik Dengan Segala Kekurangan
Imam  Syafi’i yang dilahirkan pada tahun 150 H di Jalur Gaza, Palestina terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Saat lahir, ayahnya telah meninggal. Tinggal sang ibu yang hidup dalam kemiskinan. Tetapi miskin harta tidak pernah membuatnya miskin orientasi hidup, orientasi pendidikan dan miskin semangat. Karena ini yang sering kita jumpai. Orangtua yang miskin harta, mewariskan semangat dan orientasi yang juga miskin. Sehingga lahirnya anak-anak miskin yang semakin sulit untuk keluar dari kemiskinannya karena semangat dan orientasinya sudah hampir mati. Tidak untuk ibunda Imam Syafi’i. Bahkan walau telah ditinggal meninggal mati suaminya, tidak pernah ada kata: seperti burung yang patah sebelah sayapnya. Dia tetap tegar. Dalam sebuah tekad menjaga amanah yang ditinggalkan suaminya. Tidak ada amanah harta. Tetapi ada amanah anak. Ibunya yang miskin itu, mulai menyusun rencanya. Berikut rencana ibunda Imam Syafii dalam mendidik buah hatinya:

  1. Harus segera pindah ke Mekah untuk menyambung nasab Quraisy Syafi’i kecil.
  2. Harus belajar bahasa Arab yang baik dari suku yang dikenal paling fasih dan baik berbahasa Arab.
  3. Harus duduk belajar dengan para ulama di Masjidil Haram Mekah.
  4. Harus belajar dari para ulama di luar Mekah terutamanya Madinah.

Itulah yang bisa terbaca dari sejarah dari langkah yang direncakan oleh ibunda Syafi’i kecil. Maka dari usia 2 tahun, ibunda Syafi’i memboyong Syafi’i keluar dari negerinya. Ditinggalkan semua kenangan negeri itu untuk kebesaran anaknya di kemudian hari. Tujuannya ke Mekah. Syafi’i dipertemukan dengan keluarga Quraisy yang merupakan nasab ayahnya.

Selanjutnya Syafi’i belajar bahasa di Suku Hudzail yang memang dikenal paling fasih. Sehingga kelak Imam Syafi’i tidak saja dikenal sebagai ahli fikih tetapi juga sebagai ahli sastra terbukti dengan kumpulan puisi gubahannya.

Kemudian ia sudah menghapal al-Qur’an sejak usia 7 tahun di tangan para ulama besar Mekah. Sekaligus mulai belajar berbagai ilmu. Bgitulah hingga ia berangkat untuk melanjutkan perjalanan ilmunya di Madinah berguru kepada guru besar Madinah Imam Malik. Begitulah ibunda yang telah melahirkan seorang imam besar yang dikenang hingga hari akhir.

Ibu Yang Mendidik Anaknya Sendirian
Farrukh ayah dari Rabiah ar-Ra’yi. Rabiah adalah salah seorang guru tempat Imam Malik belajar lama. Suatu saat Farrukh termasuk salah satu dalam pasukan yang dikirim ke Khurasan pada masa Bani Umayyah. Saat itu, istri Farrukh sedang hamil Rabiah. Ia meninggalkan untuk bekal istri harta sejumlah 30.000 dinar. Lama sekali ia menghilang sejak tugas itu. Sangat lama. Tidak ada kabar beritanya. 27 tahun ia baru kembali. Dengan mengendarai kuda dan dengan tombak di tangannya, ia memasuki Madinah kota tempat anak dan istrinya berada. Begitu sampai di depan rumahnya, Farrukh turun dari kuda dan mendorong pintu dengan tombaknya. Rabiah yang sudah dewasa keluar dari rumah itu. Rabiah langsung meneriaki orang yang sesungguhny ayahnya itu, “Hai musuh Allah apakah kamu akan memaksa masuk ke rumah saya?”. Farrukh menjawab, “Tidak.” Kini Farrukh justru yang menyerang balik, “Hai musuh Allah, kamu laki-laki masuk dengan tidak sah ke istri saya.” Tidak lama kemudian keduanya terlibat pergumulan dan saling mencoba mengalahkan lawannya. Hingga para tetangga berdatangan untuk melerai. Malik bin Anas dan beberapa syekh lainnya juga datang membantu Rabiah. Rabiah berkata, “Demi Allah saya tidak akan biarkan. Akan saya adukan ke negara.” Farrukh pun menjawab, “Saya juga akan lakukan hal yang sama.” Perang mulut terjadi. Ketika mereka melihat Malik, semuanya terdiam. Malik berkata, “Wahai bapak tua, engkau bisa memilih selain rumah ini.” Farrukh menjawab, “Ini rumah saya! Saya Farrukh.” Istri Farrukh yang ada di dalam rumah bergegas keluar, dia berkata, “Ini suami saya.” Ia kemudian berkata kepada Farrukh, “Ini adalah anakku yang kau tinggalkan saat aku hamil dulu.” Akhirnya ayah anak itu pun berpelukan erat sekali. Air mata tak tertahankan. Dalam pertemuan yang sangat mengharukan dan dramatik. Farrukh masuk ke dalam rumah, sambil tidak percaya melihat anaknya yang sudah dewasa, “Ini anakku itu?” Istrinya menjawab, “Ya.” Farrukh, “Terus mana uang yang dulu aku berikan kepadamu? Ini aku membawa 4000 dinar.” Istri, “Uang itu aku pendam, aku berikan beberapa hari lagi.” Rabiah kemudian berangkat menuju masjid. Di duduk di halaqah ilmu yang diajarnya. Anas bin Malik datang, Hasan bin Zaid, Ibnu Abi Ali, al-Masahiqi, para penduduk Madinah pun berdatangan untuk duduk mendengarkan Rabiah mengajarkan ilmu. Istri Farrukh berkata kepada suaminya, “Keluarlah ke masjid untuk shalat di masjid Rasulullah. Farrukh berangkat ke masjid untuk shalat. Di masjid ia melihat sebuah majlis ilmu yang dihadiri banyak sekali jamaah. Dia berhenti dan mengamati majlis ilmu itu. Rabiah sang guru menundukkan kepalanya seakan dia tidak melihat kehadiran ayahnya. Ayahnya ragu apakah yang ada di depan itu benar-benar Rabiah, maka ia bertanya kepada seorang jamaah: siapa guru itu? Orang itu menjawab: Rabiah bin Abu Abdurahman. Farrukh berkata, “Allah telah mengangkat anakku.” Farrukh kemudian kembali ke rumah menemui istrinya dan berkata, “Sungguh aku melihat anakmu ada di majlis ilmu dengan ilmu yang luar biasa.” Istrinya kemudian berkata, “Mana yang lebih engkau sukai: 30.000 dinar atau keadaan putramu yang mulia itu?” Farrukh, “Tidak demi Allah. Keadaan dia seperti ini yang lebih aku sukai.” Istri, “Aku sudah habiskan harta itu untuk mendidiknya.” Farrukh, “Demi Allah, engkau tidak menghamburkannya.

Ibu Yang Berorentasi Surga
Anas bin Malik bercerita: Pada waktu perang Badar, Haritsah termasuk yang menjadi menjadi korban. Ibunya Haritsah datang ke Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah, engkau tahu betapa tingginya posisi Haritsah di sisiku, kalau dia berada di surga maka aku bisa bersabar (kehilangan dia). Jika kalau tidak, entah apa yang akan aku lakukan.” Rasul menjawab, “Satu surga saja buat dia?! Tidak, untuknya surga-surga yang banyak. Dia ada di Firdaus yang tinggi.”

Ibu Yang Meneguhkan Anaknya Dalam Kebenaran
Seorang ibu yang sudah tua dan buta, hari itu mendengarkan keluhan anaknya. Kata-kata sang anak jelas mengambarkan suasana rasa takut yang sedang menyelimuti hati anaknya. Sang ibu pun bisa merasakannya, walau matanya tak lagi bisa melihat. Ibu yang dimaksud adalah Asma putri Abu Bakar dan putranya adalah Abdullah bin Zubair. Dialog itu terjadi ketika Abdullah bin Zubair dikepung pasukan Hajjaj di Mekah. Dialog yang harus menjadi pelajaran untuk keluarga muslim, terutama para ibu. Berikut dialog itu: Abdullah “Bunda, orang-orang merendahkanku termasuk anak dan keluargaku, tidak ada yang tinggal bersama kecuali sedikit saja dari mereka yang kesabarannya hanya sesaat dan mereka yang memberiku kesenangan dunia. Apa pendapatmu, bunda?” Asma’ “Kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri. Kalau kamu yakin berada dalam kebenaran dan menyeru kepadanya maka lanjutkan, teman-temanmu telah terbunuh karenanya maka jangan memberi kesempatan untuk dipermainkan oleh anak-anak Bani Umayyah. Tetapi jika kamu hanya ingin dunia, maka kamu seburuk-buruk hamba, kamu hancurkan dirimu dan siapa saja yang telah terbunuh bersamamu. Jika kamu katakan  bahwa kamu berada dalam kebenaran, ketika teman-temanku lemah aku pun menjadi lemah, maka itu bukanlah perbuatan orang-orang merdeka dan ahli agama. Berapa lama kamu berada di dunia ini! Terbunuh lebih baik!” Abdullah “Bunda, saya takut jika penduduk Syam membunuhku mereka akan memutilasi mayatku dan menyalibku.” Asma “Anakku, seekor kambing tidak lagi merasakan sakit dikuliti setelah disembelih. Maka bergeraklah di atas petunjuk dan memohonlah pertolongan kepada Allah.” Abdullah mencium kepala ibunya dan berkata “Inilah pendapatku, yang selama ini aku pegang kuat sampai hari ini adalah ketidakinginan untuk tinggal dan mencintai kehidupan dunia. Tidak ada yang mendorongku mengadakan perlawanan kecuali kemarahan karena Allah. Aku ingin mengetahui pendapat bunda dan sungguh bunda telah menambahi jalan terang. Maka bunda, hari ini mungkin aku akan terbunuh, jangan sampai kesedihanmu berlebihan dan serahkan seluruh urusan kepada Allah. Putramu ini belum pernah sengaja melakukan kemungkaran dan kekejian, tidak lari dari hukum Allah, tidak khianat saat aman, tidak sengaja mendzalimi seorang muslim atau non muslim yang damai, tidaklah aku mendengar ada kedzaliman yang dilakukan oleh para pejabatku kecuali pasti aku menghilangkannya, tidak ada yang paling aku dahulukan kecuali keridhaan tuhanku. Ya Allah aku tidak mengatakan ini untuk menyatakan bahwa diriku bersih, tetapi aku katakan ini untuk menghibur bundaku hingga beliau terhibur!” Asma’ ” Cukuplah, aku berharap kehilanganku atas dirimu sangat baik. Jika kamu mendahuluiku aku mohon pahala dari Allah, jika kamu menang aku bahagia dengan kemenanganmu. Keluarlah, agar aku lihat apa akhir dari urusanmu.” Abdullah “Jazakallahu khairan, jangan lupa berdoa untukku.” Asma’ “Aku tidak akan pernah lupa selamanya. Ya Allah rahmatilah shalat pada malam panjang itu, menahan dahaga di teriknya Makah dan Madinah dan baktinya kepada ayah bundanya! Ya Allah aku sudah serahkan kepada-Mu, aku ridha dengan keputusan-Mu, maka berilah aku pahala orang-orang yang sabar dan bersyukur!” Abdullah mengambil kedua tangan bundanya dan menciumnya. Asma’ memeluknya dan menciumnya. Hari itu adalah hari gugurnya putra Asma’.

Ibu Yang Selalu Hadir Pada Setiap Masalah Anaknya
Saat Aisyah sedang tertimpa tuduhan dusta, ia kembali ke rumah orangtuanya untuk menenangkan diri. Sudah dua malam satu hari, Aisyah tidak henti-hentinya menangis. Terus menangis. Matanya tak kunjung bisa dipejamkan. Ia menahan rasa perih di hati karena tersebar isu dusta tentang dirinya di masyarakat. Aisyah berkata, “Ibuku selalu ada di sampingku. Beliau berkata: sabarlah, nak. Kalau ada wanita yang disayangi suaminya dan dia adalah salah seorang dari sekian istrinya, pasti banyak perbincangan tentang dia. Pada suatu saat Rasul hadir menjenguk Aisyah yang sedang sakit di rumah orangtuanya. Rasul berkata, “Aku sudah mendengar tentang kamu di luar. Jika kamu bersih Allah akan membersihkanmu. Tetapi jika kamu salah, minta ampunlah dan bertaubatlah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”
Aisyah berkata kepada ayahnya, “Jawablah, yah.” Ayahnya berkata, “Aku tidak tahu harus berkata apa.” Aisyah berkata kepada ibunya, “Jawablah, bu.” Ibunnya menjawab, “Aku tidak tahu harus berkata apa.”

Sumber: http://www.cahayasiroh.com/index.php?option=com_content&view=article&id=123:ibu-orang-besar-ibu-2&catid=38:untukmu-muslimah&Itemid=69

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: